Motivasi hari ini

Tuesday, 5 July 2011

Masalah Gizi Lebih di Indonesia

Fast food and sedentary life

Masalah Besar Orang-Orang Besar
Oleh : Endri Pristiwadi
Editor: Imil Irsal Imran

Masalah gizi bukan lagi hal yang dianggap sederhana. Bahkan hal ini telah masuk menjadi salah satu indikator  kesehatan masyarakat. Dari 24 indikator yang menjadi dasar penetapan IPKM yang terbagi menjadi tiga kategori bobot, yaitu kategori mutlak dengan bobot lima sebanyak sebelas indikator, kategori penting dengan bobot empat sebanyak lima indikator, dan kategori perlu dengan bobot tiga sebanyak delapan indikator. Untuk kategori mutlak tiga di antaranya adalah indikator gizi yaitu prevalensi balita gizi kurang dan gizi buruk, prevalensi balita pendek, dan prevalensi balita kurus. Hal tersebut membuktikan bahwa masalah gizi bukanlah masalah yang sepele.
         Ada dua jenis masalah yang muncul akibat malnutrisi yaitu masalah gizi lebih dan gizi kurang. Gizi lebih dalam dua dekade terakhir meningkat akibat perubahan pola hidup masyarakat terutama di daerah urban. Bahkan masalah gizi lebih ini telah menjadi polemik sendiri di negara maju. Gizi lebih dapat dinilai dari berat badan. Dari data yang dihimpun WHO tahun 2008 menyebutkan bahwa sekitar 1.5 miliar penduduk dewasa mengalami kelebihan berat badan, 200 juta pria dewasa mengalami obesitas, dan lebih dari 300 juta wanita mengalami obesitas. Sebuah studi pada tahun 2008 oleh Centers for Disease Control di Atlanta yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan hampir satu dari lima anak usia 6-11 tahun dan 18,1 persen anak usia 12-19 tahun yang menderita obesitas. Di Indonesia sendiri pada tahun 2003 terdapat 2.24 % balita yang mengalami gizi lebih, sedangkan data untuk penduduk di atas 15 tahun terdapat 10.3 % mengalami gizi lebih.
         Data di atas menunjukan betapa besarnya jumlah penderita gizi lebih di Indonesia. Penyebab yang paling nyata adalah perubahan ekonomi. Perubahan ini terjadi akibat pasar globalisasi dan modrenisasi di semua aspek. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah penduduk yang berat badan lebih ataupun obesitas lebih banyak terjadi di daerah perkotaan. Peningkatan ekonomi ini menyebabkan perubahan pola hidup, mulai dari pola makan dan aktivitas fisik. Makanan yang awalnya lebih banyak persentase karbohidrat kini telah berubah menjadi lebih banyak persentase lemak, seperti fast food.  Jenis makanan yang seperti ini akan meningkatkan persentase lemak tubuh yang akhirnya akan berimplikasi kepada kelebihan berat badan.
            Selain faktor ekonomi, faktor cahaya lampu secara tidak langsung juga mempengaruhi gizi lebih dan obesitas. Penelitian terbaru dari Reuroscience  di Ohio State University  menemukan bahwa semakin banyak cahaya pada saat kita makan, maka resiko untuk mengalami kelebihan berat badan semakin tinggi. Penelitian ini menggunakan tikus sebagai hewan coba. Tikus-tikus tersebut diperlakukan dalam tiga kondisi. Kondisi pertama tikus diberi terpaan cahaya selama 24 jam terus-menerus, kondisi kedua tikus diberi terpaan cahaya dengan siklus standar terang selama 16 jam dan gelap selama 8 jam, sedangkan kondisi ketiga tikus diberi terpaan cahaya terang selama 16 jam dan cahaya redup selama 8 jam. Para peneliti mengukur berapa banyak makanan yang dipakai tikus setiap hari. Selain itu mereka juga mengukur berapa banyak mereka bergerak di sekitar kandang mereka setiap hari melalui sistem persimpangan sinar inframerah. Kemudian massa tubuh tikus dihitung setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus dengan cahaya redup saat malam massa tubuhnya meningkat lebih tinggi dari tikus yang hidup dalam siklus standar terang dan gelap. Berat badan tikus terus meningkat sejak minggu pertama penelitian. Pada akhir penelitian tikus yang hidup dengan cahaya redup malam hari berat badannya lebih kurang 12 gram sedangkan tikus yang hidup dengan siklus standar terang dan gelap berat badannya 8 gram. Tikus yang mendapat terpaan cahaya terus-menerus juga memiliki berat badan lebih besar dari tikus yang hidup dengan siklus standar terang dan gelap.
Faktor lain yang mempengaruhi gizi lebih dan obesitas adalah kebiasaan ketika makan. Salah satu kebiasaan yang buruk ketika makan adalah makan di depan komputer atau televisi, karena hal ini akan mengakibatkan jumlah makanan yang masuk ke mulut akan lebih banyak.
Selain asupan makanan, hal lain yang dapat menyebabkan gizi lebih dan obesitas adalah faktor aktivitas. Kurangnya aktivitas dapat menyebabkan gizi lebih dan obesitas. Salah satu yang menyebabkan berkurangnya aktivitas seseorang adalah tuntutan pekerjaan. Tuntutan pekerjaan pada saat ini menyebabkan kebanyakan penduduk lebih banyak menghabiskan waktunya duduk di kursi dari pada bergerak. Ditambah lagi kesadaran berolahraga yang masih kurang di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat meningkatkan resiko berat badan berlebih. Dari analisis lebih lanjut didapatkan seorang remaja yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam per hari dengan menonton televisi memiliki resiko obesitas 12.3 kali lebih besar dari pada remaja yang menonton televisi yang kurang dari 3 jam per hari.
Walaupun kita mengetahui bahwa berat badan berlebih tidak akan terjadi apabila seseorang tidak memiliki faktor genetik untuk gizi lebih atau obesitas. Apabila kedua orang tua gizi lebih atau obesitas maka kemungkinan anak menderita berat badan berlebih sekitar 80%, sedangkan apabila salah satu dari orang tua mengalami gizi lebih atau obesitas maka kemungkinan itu menjadi setengahnya atau 40 %.
Faktor-faktor sosiokultural juga berperan penting dalam gizi lebih dan obesitas, seperti masih banyaknya masyarakat yang berpendapat bahwa gemuk adalah lambang kemakmuran. Pendapat seperti ini dapat memicu peningkatan jumlah konsumsi kalori pada masyarakat tersebut. Anggapan “gemuk makmur” ini berimplikasi pada orang tua yang akan senang ketika anaknya memiliki berat badan lebih. Padahal apabila pada waktu masih anak-anak berat badannya sudah berlebih akan meningkatkan faktor resiko menjadi berat badan berlebih pada waktu dewasa.
Prevalensi ini  akan terus meningkat, mengingat setiap anak yang memiliki faktor predisposisi genetik akan tinggal bersama dengan orang tua yang telah terbiasa dengan pola hidup sedentary. Peneliti memprediksi 8 dari 10 pria dan 7 dari 10 wanita akan mengalami obesitas pada tahun 2020. Penelitian yang dilakukan ini  mengambil  sampel di satu negara maju yakni Inggris. Negara maju dan negara berkembang  cenderung memiliki gaya hidup seragam saat ini. Sehingga dapat diperkirakan trend obesitasnya antara negara maju dan negara berkembang akan sama.
Konsekuensi gizi lebih dan obesitas adalah meningkatnya resiko kematian. Seseorang yang memiliki kelebihan berat badan sebesar 40%  dari normal, diperkirakan meninggal 8 tahun lebih cepat  dari pada populasi rata-rata. Peningkatan mortalitas ini terjadi karena insiden diabetes melitus tipe dua, penyakit jantung koroner, penyakit kandung kemih, osteoarthritis atau radang sendi,  stroke, dan kanker. Sedangkan pada anak-anak dapat menimbulkan gangguan seperti dislipidemia, stenosis hepatis, gangguan saluran pencernaan, dan sleep apnea.
Pada orang yang menderita gizi lebih prevalensi munculnya kanker 30% lebih tinggi dibanding orang yang memiliki berat badan ideal. Jenis kanker yang sering muncul adalah kanker ginjal, kanker rahim, kanker payudara, kanker esophagus, kanker pancreas, dan kanker kolon.
Berat badan lebih dan obesitas adalah penyakit mahal. Bahkan untuk negara maju peningkatan jumlah penyakit akibat gizi lebih dan obesitas dalam beberapa dekade terakhir telah menguras anggaran kesehatan. Di Australia telah menghabiskan dana 464 juta dolar Australia , 12 milyar franc di Perancis, 1 milyar golden di Belanda, dan 45,8 juta dolar Amerika di Amerika Serikat. Dana yang dikeluarkan itu merupakan direct cost, artinya dana yang berhubungan langsung dengan gizi lebih dan obesitas yang sebagian besar merupakan akibat penyakit jantung koroner dan hipertensi. Sedangkan kerugian akibat berkurangnya produktifitas akibat kematian dini dan morbiditas pasti lebih besar lagi.
Di Indonesia belum diketahui besar kerugian akibat penyakit yang berhubungan dengan gizi lebih dan obesitas. Hal ini disebabkan masih kurangnya  studi tentang biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi masalah tersebut. Tetapi melihat yang terjadi di negara lain dapat diperkirakan biaya yang akan dikeluarkan negara berkembang pasti lebih besar lagi. Hal tersebut disebabkan Indonesia masih mengimpor alat-alat kedokteran dan obat-obatan demi kepentingan rumah sakit dan tenaga kesehatan lainnya.
Untuk mengatasi masalah gizi lebih dan obesitas ini tak cukup dengan hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Hal ini disebabkan gizi lebih dan obesitas sangat kompleks sehingga membutuhkan kerjasama semua lapisan masyarakat. Strategi yang harus dilakukan agar hasilnya lebih optimal adalah tindakan preventif dan promotif. Jika dioptimalkan pada tindakan kuratif dan rehabilitatif maka dana yang disediakan tidak akan cukup (WHO, 2000). Ironinya, di lapangan dana yang dikucurkan untuk usaha promotif dan preventif hanya 10 % sedangkan dana untuk kuratif dan preventif sekitar 60 – 85 %. Hal ini menyebabkan usaha promotif dan preventif kurang maksimal.
Usaha promotif dan preventif yang paling penting adalah dengan menyadarkan masyarakat itu sendiri. Usaha ini dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dari berbagai aspek. Di lihat dari segi pendidikan, kementrian pendidikan nasional dapat memasukan materi gizi ke dalam kurikulum pendidikan. Memang sebelumnya telah ada materi gizi, namun hal itu hanya sepintas lalu dan hanya membahas satu aspek yaitu gizi kurang. Diharapkan dari kurikulum yang lebih komprehensif masyarakat mulai disadarkan sejak di bangku sekolahan. Dari pendidikan dasar ini paradigma “gemuk makmur” sedikit demi sedikit akan terkikis.
Di sektor lain usaha yang dapat dilakukan oleh kementrian perdagangan yaitu mewajibkan semua produk makanan untuk mencantumkan label kadar kalori dari produk makanan tersebut baik yang ada dalam kemasan maupun jenis masakan cepat saji. Pencantuman ini akan membantu masyarakat untuk menghitung intake kalori. Label ini juga membantu komunikasi antar produsen dan konsumen mengenai hal-hal tentang pangan yang dibutuhkan konsumen. Bagi produsen sendiri label tersebut dapat digunakan sebagai sarana promosi.
Usaha dari tenaga medis dapat dilakukan dengan meningkatkan penyuluhan-penyuluhan tentang gizi lebih dan obesitas terutama di sekitar perkotaan. Dalam penyuluhan ini dijelaskan tentang bahaya laten dari gizi lebih dan obesitas. Promosi tentang diet yang seimbang serta olahraga yang cukup juga perlu ditekankan. Sebagai komunitas terkecil, keluarga dapat menghabiskan waktu liburan dengan   beraktivitas bersama. Hal ini bertujuan untuk mengajarkan kepada anaknya agar tidak menganut sedentary life, selain untuk mengeratkan hubungan antar anggota keluarga tersebut.  
         Dari uraian di atas jelas sekali masalah gizi dan kesehatan di masyarakat di masa yang akan datang menjadi semakin kompleks dan menjadi tantangan pembangunan masyarakat. Kompleksitas masalah gizi dan kesehatan ini menuntut perhatian dari semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. Jika dibiarkan saja bukan tidak mungkin prediksi tahun 2020 akan terwujud atau bahkan lebih tinggi.

No comments:

Post a Comment